Perjalanan Hidup Manusia

Maret 29th, 2007

Oleh: Imam Santoso, Lc.

Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan setiap fase dari perjalanan panjang manusia itu.

Al-Qur’an diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. berfungsi untuk memberikan pedoman bagi umat manusia tentang perjalanan (rihlah) tersebut. Suatu rihlah panjang yang akan dilalui oleh setiap manusia, tanpa kecuali. Manusia yang diciptakan Allah swt. dari tidak ada menjadi ada akan terus mengalami proses panjang sesuai rencana yang telah ditetapkan Allah swt.

Saat ini ada dua teori yang menyesatkan orang banyak. Al-Qur’an dengan tegas membantah teori itu. Pertama, teori yang mengatakan manusia ada dengan sendirinya. Dibantah Al-Qur’an dengan hujjah yang kuat, bahwa manusia ada karena diciptakan oleh Allah swt. Kedua, teori yang mengatakan manusia ada dari proses evolusi panjang, yang bermula dari sebangsa kera kemudian berubah menjadi manusia. Teori ini pun dibantah dengan sangat pasti bahwa manusia pertama adalah Adam as. Kemudian selanjutkannya anak cucu Adam as. diciptakan Allah swt. dari jenis manusia itu sendiri yang berasal dari percampuran antara sperma lelaki dengan sel telur wanita, maka lahirlah manusia.

Rasulullah saw. semakin mengokohkan tentang kisah rihlatul insan. Disebutkan dalam beberapa haditsnya. “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir” (HR Bukhari). Dalam hadits lain: ”Untuk apa dunia itu bagiku? Aku di dunia tidak lebih dari seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya” (HR At-Tirmidzi).

Alam Arwah

Manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah swt. setelah sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk lain seperti malaikat, jin, bumi, langit dan seisinya. Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya.

Persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172).

Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum: 30). Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak dilahirkan secara fitrah. Maka kedua orang tuannya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR Bukhari) (lagi…)

1 komentar Juli 20, 2007

hAdiSt k-16,ArBa’iN naWaWi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.

(Riwayat Bukhori )

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1. Anjuran bagi setiap muslim untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik.

2. Larangan marah.

3. Dianjurkan untuk mengulangi pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya

Add a comment Juni 29, 2007

HaDiSt k-18,aRbA’in nAwaWi

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “

[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “

(Riwayat Turmuzi, dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shalih.

2. Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.

3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.

4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.

Add a comment Juni 29, 2007

“AgaMa,SaStRa Jawa,n IsLaM LiBeRal”

Tanggapan atas Pemikiran Ulil Abshar Abdalla
Oleh Budi Palopo
25/05/2003
Tapi kenapa Ulil masih juga melihat Prometheus yang kalah dalam versi Islam? Boleh jadi, keprihatinan semacam itulah yang menggelayuti pemikiran Ulil. Keprihatinan tentang Tuhan yang terberhalakan. Keprihatinan soal Islam yang telah berubah jadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan. Lebih memprihatinkan lagi kalau sampai mengharap ada keledai bisa berdialog dengan manusia.

artikel Budi Palopo lainnya
Total 0 artikel
Lebih lengkap lihat biodata penulis
artikel baru
25/06/2007
Andriansyah
Sains Islami atau Pseudo-Sains?
25/06/2007
Puritanisme Akibatkan Kemiskinan Intelektual
25/06/2007
Umdah El-Baroroh
Surga
18/06/2007
Ulil Abshar-Abdalla
Setelah Pintu Ijtihad Terbuka
18/06/2007
Muhammad Nurul Fikri
Ijtihad dan Kesegaran Islam
artikel sebelumnya
24/01/2002
Daniel S. Lev
Islam Liberal; Menciptakan Kembali Indonesia
02/09/2001
Burhanuddin
Vocal Minority
26/08/2001
Burhanuddin
Membangun Pluralitas Alquran
25/05/2003
Ulil Abshar-Abdalla
Shirat al-Mustaqim, Neraka, dan Pogrom
25/05/2003
Kebebasan Itu Bukanlah Hadiah
nalika sun pirsa klebat laku bandhosa enggal sun priksa guritan luhung kang tinulis ngriyas lembar ijo kain tutup-e :la ilaha ilallah… mengkono unine yen kawaca sarwa resik ngaligrafi kaendahane

nanging, nalika sun pirsa klebat laku bandhosa enggal rungu pitakone anak lanang kanthi lagon dolanan: sapa wong kang ora njerit, bapa senajan endah kain tutup-e jroning bandhosa tetep mayit isine ……

(ketika kutahu kelebat gerak keranda segera kusimak kalimat agung yang tertulis di lembaran hijau kain penutupnya : la ilaha ilallah begitulah bunyinya kalau dibaca serba bersih, kaligrafinya pun cukup indah

tapi, ketika kutahu kelebat gerak keranda segera pula kudengar pertanyaan seorang anak laki-laki lewat lagu dolanan: siapa yang tak merasa prihatin, bapa kendati indah kain petutupnya dalam keranda tetap mayat isinya ……)

(Jaya Baya nomor 6, 11 Oktober 1992)

SASTRA bukanlah persoalan bahasa an sich. Pada awal mula, segala sastra adalah religius (Y.B. Mangunwijaya). Sastra adalah intellectual exercise, sebuah dunia pemikiran yang menyimpan nilai-nilai kebenaran (Budi Darma). Dan, kendati tak bisa (tepatnya: tak boleh?) disebut sebagai karya sastra, teks dalam kitab suci Alquran jelas cukup sastrawi. Cukup simbolis, interpretatif, dan sangat indah. Nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya pun tak terbantah.

Untuk menanggapi tulisan Ulil Abshar Abdalla: Agama, Akal, dan Kebebasan (Jawa Pos, Minggu 11 Maret 2003), saya tertarik untuk menyinggungkannya dengan dunia sastra, terutama sastra Jawa. Sebab, Ulil menyebut bahwa tujuan pokok agama adalah untuk meningkatkan martabat kemanusiaan. Dan, ini semakna dengan kalimat agama ageming aji dalam Serat Wedhatama, karya Mangkunegoro IV (?).

’Pemberontakan kreatif’ Islam Liberal ala Ulil yang dihadirkan dalam semangat sebagai penyeimbang hukum-hukum fikih sesungguhnya -kendati tak sama persis- telah pula teruar-uarkan lewat sastra Jawa klasik. Bahkan, jauh lebih berani dan terkesan edan-edanan. Dalam Serat Cebolek, misalnya. Dikisahkan, pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan putranya, Paku Buwana II, di Desa Cebolek -terletak di Tuban, di kawasan pesisir Jawa Timur- ada tokoh yang ’divonis’ sebagai pembangkang agama. Haji Ahmad Mutamakim namanya. Dalam khutbah-khutbahnya, ia menganjurkan untuk meninggalkan syariah (hukum Islam). Menggemparkan. Fondasi komunitas Islam pun terancam guncang. Perdebatan terbuka pun digelar. Puncaknya, tokoh agama dari Cebolek itu diseret untuk diadili di Kartasura.

Beberapa contoh sejarah pembangkangan mistik Jawa yang pernah ditumpas oleh kerajaan-kerajaan terdahulu pun terlontar dalam sidang pengadilan. Syekh Siti Jenar yang dipenggal di Kerajaan Giri, Sunan Panggung yang di bawah Sultan Demak dihukum bakar, Ki Bagdad dari Pajang yang ditenggelamkan ke sungai, dan Syekh Amongraga yang di bawah Sultan Agung ditenggelamkan di laut. Dengan referensi tersebut, Ketib Anom dari Kudus kemudian mengusulkan hukuman dibakar hidup-hidup untuk ’kejahatan’ yang dilakukan oleh Haji Ahmad Mutamakim.

Semangat Renaisans

Mungkinkah kebebasan berpikir yang diperjuangkan Ulil lewat bendera Islam Liberal akan melahirkan ancaman hukuman fisik macam kisah-kisah tersebut? Saya yakin: tidak. Sebab, sejak manusia mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka telah membebaskan diri dari belenggu pemikiran mitis yang irasional. Ulil pun telah menyebutkan bahwa pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Namun, pandangan keagamaan semacam itu kemudian tertinggal setelah muncul pandangan antroposentrisme yang mendobrak pandangan keagamaan mitologis secara revolusioner. Manusia dianggap sebagai penguasa realitas, oleh karena itu manusialah yang menentukan nasibnya sendiri, bukan para dewa. Manusia bahkan dianggap sebagai penentu kebenaran.

Pandangan antroposentrisme yang juga disebut humanisme itu muncul dengan datangnya rasionalisme yang tidak lagi percaya bahwa hukum alam bersifat mutlak. Rasionalisme inilah yang melahirkan Renaisans, yaitu suatu gerakan kebangunan kembali manusia dari kungkungan mitologi dan dogma-dogma. Melalui filsafat rasionalisme, gerakan ini telah melahirkan revolusi paham keagamaan bahwa pada dasarnya manusia itu merdeka.

Di dalam Islam, manusia juga digambarkan sebagai makhluk yang merdeka, dan karena hakikat kemerdekaannya itulah, manusia menduduki tempat yang sangat terhormat. Sesunguhnya dalam konsepsi Alquran, posisi manusia itu sangat penting. Begitu pentingnya posisi itu dapat dilihat dalam predikat manusia sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Tuhan di muka bumi, yang memberikan gambaran bahwa seolah-olah Tuhan mempercayakan kekuasaan-Nya kepada manusia untuk mengatur dunia ini (Kuntowijoyo, 1991: 162).

Tapi kenapa Ulil masih juga melihat Prometheus yang kalah dalam versi Islam? Entahlah. Yang jelas, saya kemudian teringat peristiwa riil pada tahun 1990-an. Ketika itu, saya tinggal di sebuah rumah kontrakan, di Surabaya. Saat momong anak laki-laki saya yang pertama, di jalanan kampung ada keranda (kereta jenazah) beroda yang diiringkan banyak orang. Pada kain penutupnya yang berwarna hijau ada tulisan huruf Arab berwarna kuning keemasan, kalau dibaca berbunyi “La ilaha ilallah”. Sebenarnya hal yang demikian itu telah jadi pemandangan biasa. Tapi, entah kenapa, ketika itu saya tiba-tiba saja merasa terusik untuk bertanya pada diri sendiri. Kenapa yang terlihat indah hanya pada kain penutupnya, sementara isi keranda hanyalah mayat? Mungkinkah ini merupakan gambaran bahwa masih ada pemeluk agama Islam yang hanya mengagungkan keindahan kulit dalam memahami persoalan keilahian? Sungguh memprihatinkan!

Boleh jadi, keprihatinan semacam itulah yang menggelayuti pemikiran Ulil. Keprihatinan tentang Tuhan yang terberhalakan. Keprihatinan soal Islam yang telah berubah jadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan. Lebih memprihatinkan lagi kalau sampai mengharap ada keledai bisa berdialog dengan manusia. Dan, bagi saya, suara keprihatinan semacam itu cukup terwakili dalam kalimat “senajan endah kain tutupe/jroning bandhosa tetep mayit isine” yang terselip dalam gurit pembuka tulisan ini.

Kendati demikian, saya juga menangkap (maaf) semacam kelebat gerak pendangkalan pemikiran, saat Ulil mempersoalkan kata “sembah” dalam tulisannya. Setidaknya, Ulil tampak terjebak pada interpretasi atas teks yang tak terlalu esensial untuk diperdebatkan. Sementara, dalam sastra suluk Jawa, perbincangan sudah menyentuh pada persoalan esensi keilahian (simak: studi filsafat P.J Zoetmulder, yang diterjemahkan Dick Hartoko dalam “Manunggaling Kawula Gusti”. “Wirid Hidayat Jati”-nya R Ng Ronggowarsito pun telah pula memaparkan persoalan gelaran kahananing dat, sebuah interpretasi atas teks penciptaan Adam, yang pola pemaparannya kemudian dikembangkan oleh Danarto lewat cerpen Adam Ma’rifat; sebuah cerpen tentang Allah yang mengejawantah (terbitan Balai Pustaka, 1982)

Dan, kendati tak harus mempersoalkan makna kata “sembah”, dalam Serat Wedhatama telah pula dipaparkan, bahwa ada empat tahapan dalam upaya untuk bisa melakukan aktivitas “sembah” pada Tuhan. Ada sembah raga, sebagaimana telah kita kenal sebagai salat lima waktu, sebuah langkah awal, yang masih perlu tindak lanjut (pakartine amagang laku) ke tahap berikutnya. Yang kedua, sembah kalbu. Di sini ada aktivitas laku menepis sifat serakah (nyunyuda hardaning kalbu), berusaha untuk bisa hidup teratur, bersikap teliti dan hati-hati. Yang ketiga, sembah batin, yang di dalamnya ada sikap tenang dan selalu terus-menerus berintrospeksi. Yang terakhir, sembah rasa. Di tahap inilah permenungan tentang hidup dan kehidupan berlangsung.

Dengan demikian, kendati tanpa harus mempersoalkan makna kata “sembah”, laku dialogal kreatif yang telah dipapar-jelaskan Ulil telah pula tercakup dalam aktivitas sembah yang termaktub dalam sastra Jawa klasik berirama tembang gambuh tersebut.

Dan, setahu saya, garis horizontal telah dijadikan gambaran hubungan kemasyarakatan manusia, termasuk hubungan manusia dengan alam, dengan ilmu pengetahun, dan semacamnya. Sementara, garis vertikal telah dijadikan gambaran tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Pertanyaannya: jika garis vertikal dan horizontal disilangkan, pada titik potong ordinatnya termasuk dalam garis horizontal ataukah merupakan bagian dari garis vertikal? Dus, ketika kita melakukan hubungan kemasyarakatan, apakah itu tidak pula berarti bahwa kita juga melakukan hubungan dengan Tuhan? Akhir kata, …sun manembah kanthi obah jumangkah/ tandha sumarah/ dudu apal donga lan pinter cadhong tadhah (Jaya Baya, No 42, 20 Juni 1993). Aku menyembah dengan gerak dan langkah/tanda pasrah/bukan hafal doa dan pintar menadahkan tangan (Red.). **

Add a comment Juni 29, 2007

Bedah Caesar

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Bedah caesar (bahasa Inggris: caesarean section atau cesarean section dalam Inggris-Amerika), disebut juga dengan c-section (disingkat dengan cs) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko kepada komplikasi medis lainnya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anastesi serta bidan.

Bedah caesar teknik vertikalDaftar isi [sembunyikan]
1 Etimologi
2 Jenis
3 Indikasi
4 Resiko
5 Prevalensi
6 Anastesis
7 Persalinan normal setelah bedah caesar
8 Sejarah
9 Referensi
10 Pranala luar
11 Rujukan

[sunting] Etimologi
Ada beberapa unsur yang dapat menjelaskan asal kata “caesar”.

Istilah dapat diambil dari kata kerja bahasa Latin caedere yang berarti “membedah”. Dengan demikian “bedah caesar” menjadi gaya bahasa retoris.
Istilah yang mungkin diambil dari pemimpin Romawi kuno Julius Caesar yang disebut-sebut dilahirkan dengan metode tersebut. Dalam sejarah, hal ini sangat tidak memungkinkan karena ibunya masih hidup ketika ia mencapai usia dewasa (bedah caesar tidak mungkin dilakukan pada masa tersebut terkait dengan teknologi yang tidak mendukung), tetapi legenda tersebut telah bertahan sejak abad ke-2 SM.
Hukum Romawi yang menjelaskan bahwa prosedur tersebut perlu dilakukan pada ibu hamil yang meninggal untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Hal ini dikenal dengan istilah lex caesarea, sehingga hukum Romawi mungkin menjadi asal usul istilah ini.
Secara umum, istilah “bedah caesar” merupakan gabungan dari hal-hal tersebut di atas. Kata kerja caedo dalam kalimat a matre caesus (“membedah ibunya”) digunakan pada masa Romawi untuk mendeskripsikan operasi tersebut.

[sunting] Jenis

Sebuah operasi caesar sedang dalam proses.Ada beberapa jenis “caesarean sections” (CS):

Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan hari ini karena sangat beresiko terhadap terjadinya komplikasi.
Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan resiko terjadinya pendarahan dan cepat penyembuhannya.
Histerektomi caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pendarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.
Bentuk lain dari bedah caesar seperti extraperitoneal CS atau Porro CS.
Bedah caesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya telah pernah menjalan bedah caesar. Umumnya sayatan dilakukan pada bekas luka operasi sebelumnya.
Di berbagai rumah sakit, khususnya di Amerika Serikat, Britania Raya, Australia dan Selandia Baru, sang suami disarankan untuk turut serta pada proses pembedahan untuk mendukung sang ibu. Dokter spesialis anastesis umumnya akan menurunkan kain penghalang ketika si bayi dilahirkan agar orang tua si bayi dapat melihat bayinya. Rumah sakit di Indonesia umumnya tidak memperbolehkan adanya orang lain turut serta waktu persalinan dengan bedah caesar termasuk sang suami.

[sunting] Indikasi

Seorang bayi ketika dilahirkan melalui bedah caesarDokter spesialis kebidanan akan menyarankan bedah caesar ketika proses kelahiran melalui vagina kemungkinan akan menyebabkan resiko kepada sang ibu atau si bayi. Hal-hal lainnya yang dapat menjadi pertimbangan disarankannya bedah caesar antara lain:

proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (dystosia)
detak jantung janin melambat (fetal distress)
adanya kelelahan persalinan
komplikasi pre-eklampsia
sang ibu menderita herpes
putusnya tali pusar
resiko luka parah pada rahim
persalinan kembar (masih dalam kontroversi)
sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping
kegagalan persalinan dengan induksi
kegagalan persalinan dengan alat bantu (forceps atau ventouse)
bayi besar (makrosomia – berat badan lahir lebih dari 4,2 kg)
masalah plasenta seperti plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), placental abruption atau placenta accreta)
kontraksi pada pinggul
sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi)
sebelumnya pernah mengalami masalah pada penyembuhan perineum (oleh proses persalinan sebelumnya atau penyakit Crohn)
angka d-dimer tinggi bagi ibu hamil yang menderita sindrom antibodi antifosfolipid
CPD atau cephalo pelvic disproportion (proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat)
Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal (hidrosefalus)
Ibu menderita hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi)
Harap diingat bahwa institusi yang berbeda dapat memiliki pendapat yang berbeda pula mengenai kapan suatu bedah caesar dibutuhkan. Di Britania Raya, hukum menyatakan bahwa ibu hamil mempunyai hak untuk menolak tindakan medis apapun termasuk bedah caesar walaupun keputusan tersebut beresiko terhadap kematiannya atau nyawa sang bayi. Negara lain memiliki hukum yang berbeda mengenai hal ini. Lihat pula mengenai bedah caesar berdasarkan permintaan.

[sunting] Resiko

Metode sayatan mendatarData statistik dari 1990-an menyebutkan bahwa kurang dari 1 kematian dari 2.500 yang menjalani bedah caesar, dibandingkan dengan 1 dari 10.000 untuk persalinan normal [1]. Akan tetapi angka kematian untuk kedua proses persalinan tersebut terus menurun sekarang ini. Badan kesehatan Britania Raya menyebutkan resiko kematian ibu yang menjalani bedah caesar adalah tiga kali resiko kematian ketika menjalani persalinan normal [2]. Akan tetapi, adalah tidak mungkin untuk membandingkan secara langsung tingkat kematian proses persalinan normal dan proses persalinan dengan bedah caesar karena ibu yang menjalani pembedahan adalah mereka yang memang sudah beresiko dalam kehamilan.

Bayi yang lahir dengan persalinan bedah caesar seringkali mengalami masalah bernafas untuk pertama kalinya. Sering pula sang bayi menjadi ngantuk dikarenakan obat penangkal nyeri yang diberikan kepada sang ibu.

[sunting] Prevalensi
Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat. Kanada pada 2003 memiliki angka 21%.

Berbagai pertimbangan mengemuka akhir-akhir ini mengingat proses bedah caesar yang seringkali dilakukan bukan karena alasan medis. Berbagai kritik pula mengemuka karena bedah caesar yang disebut-sebut lebih menguntungkan rumah sakit atau karena bedah caesar lebih mudah dan lebih singkat waktu prosesnya oleh dokter spesialis kandungan. Kritik lainnya diberikan terhadap mereka yang meminta proser bedah caesar karena tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal.

[sunting] Anastesis

Sang ibu tetap dalam keadaan sadar waktu bayinya dilahirkanSang ibu umumnya akan diberikan anastesi lokal (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.

Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah caesar menjadi semakin jarang dilakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus beresiko tinggi atau kasus darurat.

[sunting] Persalinan normal setelah bedah caesar
Persalinan normal setelah bedah caesar adalah umum dilakukan pada masa sekarang ini. Di waktu lalu, bedah caesar dilakukan dengan sayatan vertikal sehingga memotong otot-otot rahim. Bedah caesar sekarang ini umumnya melalui sayatan mendatar pada otot rahim sehingga rahim lebih terjaga kekuatannya dan dapat menghadapi kontraksi kuat pada persalinan normal berikutnya. Luka bekas sayatan pada bedah caesar sekarang ini adalah terletak di bawah “garis bikini”.

[sunting] Sejarah

Bedah caesar dilakukan di Kahura, Uganda. Sebagaimana diamati oleh R. W. Felkin tahun 1879.Pada 1316, Robert II dari Skotlandia dilahirkan dengan bedah caesar, ibunya Marjorie Bruce, kemudian meninggal. Bukti pertama mengenai ibu yang selamat dari bedah caesar adalah di Siegershausen, Swiss tahun 1500: Jacob Nufer, seorang pedagang babi, harus membedah istrinya setelah proses persalinan yang lama. Prosedur bedah caesar di waktu lampau mempunyai angka kematian yang tinggi. Di Britania Raya dan Irlandia, angka kematian akibat bedah caesar pada 1865 adalah 85%. Beberapa penemuan yang membantu menurunkan angka kematian antara lain:

Pengembangan prinsip-prinsip asepsis.
Pengenalan prosedur penjahitan rahim oleh Max Sänger pada 1882.
Extraperitoneal CS dilanjutkan dengan sayatan mendatar rendah (Krönig, 1912).
Perkembangan teknik anestesi.
Transfusi darah.
Antibiotik.
Pada 5 Maret 2000, Inés Ramírez melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri dan berhasil mempertahankan nyawanya dan juga bayinya, Orlando Ruiz Ramírez. Ia dipercaya sebagai satu-satunya wanita yang melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri.

[sunting] Referensi
Williams Obstetrics. Edisi ke-14. Appleton Century-Crofts, New York, 1971, halaman 1163-1190.

[sunting] Pranala luar
(id) Operasi Caesar: Bersenang-senang Dulu, Bersakit-sakit Kemudian?
(en) Caesareans and VBACs FAQ
(en) C-section recovery
(en) VBAC Backlash
(en) “Medlineplus about Cesareans”
(en) Procedures: Caesarean section

[sunting] Rujukan
^ Risks of Cesarean Section
^ Caesarean section
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Bedah_caesar”
Kategori: Kehamilan

TampilanArtikel Pembicaraan Sunting ↑Versi terdahulu Peralatan pribadiMasuk log / buat akun Navigasi
Halaman Utama
Portal komunitas
Peristiwa terkini
Perubahan terbaru
Halaman sembarang
Bantuan
Donasi
Warung Kopi
Pencarian
Kotak peralatan
Pranala balik
Perubahan terkait
Pemuatan
Halaman istimewa
Versi cetak
Pranala permanen
Kutip artikel ini
Hapus singgahan
Kontributor halaman
Subhalaman
Peta artikel
Bahasa lain
العربية
Dansk
Deutsch
English
Esperanto
Español
Suomi
Français
עברית
Italiano
日本語
Lietuvių
Nederlands
‪Norsk (bokmål)‬
Polski
Português
Русский
Svenska
Tiếng Việt

Halaman ini terakhir diubah pada 21:55, 3 April 2007. Seluruh teks tersedia sesuai dengan Lisensi Dokumentasi Bebas GNU
Wikipedia® adalah merek dagang terdaftar dari Wikimedia Foundation, Inc.
Kebijakan privasi Perihal Wikipedia Penyangkalan

Add a comment Juni 28, 2007

mY mOm

my mom adl seseorg yg trpnting bgq.dia sllu mnmaniq di stiap saat.palagi d wkt kcl.ssh sng dia sllu ada untkq.pnuh dg rasa ksh sayang n pngorbanan dia mnjagaq.smg dia akn sll mndpt kberkahan n d lindungi ole 4JJI swt amiiiien……

2 komentar Juni 28, 2007

pengetahuan al-qur’an

Al Qur’an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam Al Qur’an “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82) Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandung Al Qur’an semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari.

Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita:

“Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155)

Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan:

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29)

“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12)

>>Bahasa yang lain ———————— Turki PerancisDeutsch InggrisChinese

pelajari sejauh ini memperlihatkan kita akan satu kenyataan pasti: Al Qur’an adalah kitab yang di dalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Ini merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an bukanlah perkataan manusia.

Al Qur’an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam Al Qur’an “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82) Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandung Al Qur’an semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari.

Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita:

“Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155)

Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan:

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29)

“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12)

>>Bahasa yang lain ———————— Turki PerancisDeutsch InggrisChinese

Add a comment Juni 28, 2007

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Januari 2012
M S S R K J S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.